Satu per satu semua terlewati, yang satu terbuka dan satu tertutup, satu bangkit yang lain terjatuh, satu hidup dan satu lagi mati. Kalau saja aku bisa memegang kendalinya, ingin kuhapus warna abu-abu diatas sana, di langit biru itu. Yang seakan tanpa batas, membentang luas memberikan harapan sampai dia bertemu lautan dibatas cakrawala di tempat matahari terbit dan terbenam. Membuktikan bahwa segalanya bisa terjadi. Tapi itu hanya pikirku, nyatanya bukanlah aku yang memegang kendalinya. Terkadang langit itu biru dan lain waktu abu-abu. Terkadang pula dia merah menyala menyatukan warna bersama matahari. Menutup hari ini dengan begitu mempesona.
Setiap pagi, setiap mata terbuka, bersiap menyambut detik-detik berharga yang begitu mendebarkan. Karena kau akan memulai sesuatu yang tak pernah kau tahu. Ya. Kau tak pernah tahu. Begitupun aku. Siapakah yang tahu? Entahlah. Semua berjalan seperti adanya. Matahari bersinar dan akan padam pada saatnya. Sesaat kau tertawa lalu sedetik kemudian airmata menyapu wajahmu. Sesaat kau bergerak dan sesaat kau terhenti. Seperti sebuah pelangi, hidup tak akan hanya berwarna merah atau biru. Hitam dan putih pun tak selamanya berdiri dalam permusuhan. Terkadang mereka samar-samar tak terlihat, berlarian disekitarmu dan duduk disebelahmu. Pada akhirnya, kaulah yang putuskan. Warna apakah kau?

0 komentar:
Posting Komentar